Daftar Oleh-oleh Jajanan dan Makanan Favorit Khas Yogyakarta (Bagian 2)

6353
1
Daftar Oleh-oleh Jajanan dan Makanan Favorit Khas Yogyakarta (Bagian 2)
Foto: id.wikipedia.org

Yogyakarta memang pantas disebut daerah istimewa. Selain kaya akan aneka ragam budaya yang telah diwariskan nenek moyang, Yogyakarta juga kaya akan ragam kuliner yang menjadi ciri khas tiap daerah di provinsi.


Selain jajanan dan oleh-oleh yang umumnya dikenal oleh masyarakat luas di Indonesia, Yogyakarta sebenarnya masih kaya akan masakan atau kudapan lain yang menjadi ciri khas tersendiri di tiap-tiap daerah di lima kabupaten di provinsi ini.

Masakan atau kudapan khas yang telah turun menurun ini biasanya dikonsumsi oleh penduduk sekitar sebagai makanan wajib atau makanan sehari-hari dan hidangan yang disajikan saat hajatan atau syukuran, seperti pernikahan, sunatan, ataupun kenduri dan tahlilan. Namun demikian, beberapa makanan atau kuliner tradisional ini masih mudah kita jumpai di pasar-pasar tradisional di seluruh pelosok Yogyakarta.

Masih beredarnya kuliner tradisional di pasaran dikarenakan beberapa penduduk masih doyan akan makanan ini karena memang rasanya yang enak dan dijamin bergizi tinggi baik dari segi bahan dan cara pengolahannya, tidak seperti makanan-makanan kekinian yang justru dikhawatirkan kurang menyehatkan meski unggul dari segi bentuk dan penampilan.

Bila sebelumnya pada bagian 1 sudah disebutkan berbagai kuliner khas Yogyakarta yang dapat dijadikan buah tangan buat para wisatawan (karena memiliki daya tahan cukup lama) maupun penduduk lokal yang ingin menikmatinya, berikut ini pada bagian 2 akan kami sajikan beberapa kuliner khas Yogyakarta yang dapat Anda nikmati di Yogyakarta ataupun bisa menjadi bekal selama di perjalanan karena memiliki daya tahan pangan yang tidak lama.

1. Gudeng Basah

Foto: jogja.tribunnews.com

Seperti semua orang ketahui, gudeg merupakan makanan khas paling terkenal di Yogyakarta. Bahkan makanan ini menjadi simbol Kota Yogyakarta sehingga terkenal dengan sebutan Kota Gudeg.

Ada tiga jenis gudeg, yaitu gudeg basah, gudeg kering, dan gudeg manggar. Gudeg basah adalah gudeg yang disajikan dengan kuah santan nyemek yang gurih. Sedangkan gudeg kering dimasak dalam waktu yang lebih lama hingga kuahnya mengering dan warnanya lebih kecoklatan dengan rasa yang lebih manis. Sementara gudeg manggar adalah terbuat dari bunga kelapa. Namun gudeg manggar ini tidak terlalu mudah ditemukan. Salah satu gudeg yang terkenal di Yogyakarta adalah gudeg pawon yang dijual pada saat tengah malam.

Foto: jogja.tribunnews.com

Bila sebelumnya telah dijelaskan mengenai gudeg kering dan gudeg kalengan, untuk kali ini akan dibahas mengenai gudeg basah yang sering menjadi santapan warga di Yogyakarta baik di pagi hari maupun tengah malam. Gudeg ini berkuah dan tidak tahan lama, tidak seperti gudeg kering/kendil yang dijual sepanjang hari. Gudeg yang dijual di malam hari cenderung tidak terlalu manis dan harganya pun lebih murah.

Saat ini, sebagian besar dari gudeg yang dijual atau disediakan untuk makan malam dengan jam buka mulai sekitar pukul 9 malam. Hal ini dikarenakan pada jam segitu pertokoan telah tutup dan para penjual gudeg ramai menjajakan santapan ini di trotoar di depan pertokoan atau lokasi-lokasi pusat keramaian. Namun, sebenarnya juga masih banyak gudeg basah yang dijual pada pagi hari untuk sarapan. Hanya saja sering kalah bersaing dengan jajanan lain seperti nasi kuning, soto, bubur ayam, dan lain sebagainya.

Foto: blog.traveloka.com

Sangat susah untuk mengatakan gudeg mana yang terenak di Yogyakarta. Kuliner wajib khas Yogyakarta ini memang sangat populer sejak puluhan tahun lalu karena rasanya yang lezat. Semua ini tergantung lidah dan selera masing-masing karena setiap penjual gudeg memiliki ciri khas masing-masing, terutama dari segi cita rasa dan pengolahannya.

Berikut ini beberapa lokasi penjualan dari gudeg kering dan gudeg kaleng yang telah menjadi rekomendasi banyak orang yang telah membelinya:

  • Gudeg Pawon. Alamat: Jl. Janturan No. 36-38 Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta. Tempat jualan gudeg ini cukup unik karena pemilik menjual gudeg di dapur mereka langsung (pawon) di mana pengunjung boleh bebas makan di seluruh bagian rumah, bahkan di dapur sekalipun. Jam buka: 22.30 WIB.
  • Gudeg Bromo (Bu Thekluk) . Alamat: Jl. Affandi, depan Visitel Yogyakarta. Konon penjualnya sering tertidur saat berjualan sehingga terkenal dengan sebutan Gudeg Bu Thekluk. Jam buka: 23.00 WIB.
  • Gudeg Basah Mbok Mandeg. Alamat: Jl. Parangtritis KM 3, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta, tepatnya selatan simpang empat Jl Parangtritis – Jogokaryan.
  • Gudeg Mercon Ibu Tinah. Alamat: Tepi Jalan Kranggan
  • Gudeg Jogja Bu Slamet. Alamat: Jl. Batikan No.82, Yogyakarta. Jam buka: 18.00 – 01.30 WIB.
  • Gudeg Bu Sri (Kuncen). Alamat: Jl. HOS Cokroaminoto No.52 dan Jl. Wates km.4,5, Yogyakarta. Jam buka: 10.00 – 24.00 WIB.
  • Gudeg Permata. Alamat: Jalan Kusumanegara Yogyakarta.
  • Gudeg Mbak Sasha. Alamat: Depan Mirota Gejayan, Jalan Affandi Yogyakarta.
  • Gudeg Sagem. Alamat: Utara SMU N 1 Yogyakarta
  • Gudeg Batas Kota. Alamat: Jl. Urip Sumoharjo (dekat XXI)
  • Gudeg Tugu. Alamat: Jl. Sultan Agung (barat Tugu)

Bila kamu ingin mencoba membuat gudeg basah sendiri di rumah, silakan membaca ini: Resep Membuat Gudeg Basah Khas Yogyakarta.

 

2. Sate Klathak

Foto: djogjatrans.com

Selain terkenal dengan kuliner gudeg, Yogyakarta juga cukup terkenal dengan kuliner sate yang cukup khas, yaitu sate klathak. Sate klathak merupakan sate khas imogiri yang banyak terdapat di kecamatan Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Kuliner ini wajib dicoba karena tidak hanya nikmat, sate klathak juga unik. Tapi perlu diingat, buat kalian yang punya darah tinggi atau hipertensi sebaiknya agar lebih berhati-hati mengkonsumsi sate kambing ini. Boleh untuk mengkonsumsinya tapi dalam jumlah yang wajar.

Yang pertama kali memperkenalkan sate ini adalah Mbah Ambyah yang memiliki ide menjual sate kambing karena beliau memiliki banyak kambing. Awalnya julan sate tersebut dijual di bawah pohon melinjo. Usaha  tersebut kemudian diturunkan pada anak-anaknya. Dalam perkembangannya, banyak warga sekitar Jejeran juga memutuskan untuk membuka warung sate yang sama dengan lokasi yang berdekatan bahkan sampai membangun restaurant yang dikelola secara professional sampai saat ini.

Untuk lebih lengkap dan jelasnya mengenai segela sesuatunya tentang Sate Klathak, kalian bisa membaca artikel ini: Sate Klathak Pak Pong, Warung Sate Kambing Legendaris Di Imogiri.

Berikut ini beberapa lokasi penjualan dari sate klathak yang telah menjadi rekomendasi banyak orang yang telah membelinya:

  • Sate Klathak Pang Pong. Alamat: Pasar Jejeran, Stadion Sultan Agung / Jalan Imogiri Timur Km 10, Wonokromo (Timur Stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta | Telp. 0274-3277822 / 8227896. Dari perempatan yang terletak di Jl Imogiri Timur Km 7, kita harus berbelok ke arah barat sekitar 500 meter, dan kita akan menemukan rumah makan ini di sebelah kanan jalan.Warung ini merupakan warung sate klathak terbesar dan tersohor. Jam buka: 10.00 – 24.00 WIB.
  • Sate Klathak Pak Bari. Alamat: Pasar Jejeran | Telp. 0813 288 001 65
  • Warung Sate Klathak Pak JeDe. Alamat: Jl. Nologaten no.46 Depok Sleman | Telp. 0274 – 7451737.
  • Sate Klathak Pak Dakir. Alamat: HOS Cokroaminoto No. 75.

Bila kamu ingin mencoba membuat sate klathak sendiri di rumah, silakan membaca ini: Resep Membuat Sate Klathak Khas Imogiri Bantul.

 

3. Oseng-oseng Mercon

Foto: makanmakan.com

Sesuai halnya namanya, siapapun yang menikmati masakan ini akan merasakan rasa pedas yang akan meledak di lidah. Bukan berlebihan karena bahan utamanya adalah cabai rawit.

Oseng-oseng mercon ditemukan secara tidak sengaja (coba-coba) yang dilakukan oleh orang tua Bu Narti. Pada saat Hari Raya Idul Adha, keluarga Narti banyak menerima daging kurban. Selain daging sapi, beliau juga mendapatkan kulit, kikil, dan gajih atau lebih dikenal dengan nama koyoran.

Merasa binggung dengan daging yang begitu banyak maka timbulah ide untuk memasak bagian-bagian tersebut degan menggunakan cabai rawit. Akhirnya setelah bereksperimen dengan paduan bumbu khusus terciptalah oseng mercon ini, siapa sangka kemudian masakan ini digemari banyak orang dan dicari banyak kalangan khususnya pecinta rasa pedas.

Usaha warung makannya pertama kali digeluti oleh Bu Kardi (orang tua Bu Narti) sejak tahun 1965. Ia memperkenalkan resep hasil kreatifitasnya sendiri ini dengan mengolah sisa daging sapi (tetelan) yang memang tidak digunakan untuk memasak karena terdiri dari campuran daging dan lemak.

Begitu membuka warung makannya, oseng-oseng mercon bu narti tersebut menjadi menu utama yang ditawarkan pengunjung. Tidak disangka, pembeli ternyata menyukai masakan yang sangat pedas tersebut sehingga oseng-oseng tersebut akhirnya menjadi populer bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah.

Foto: checkinjogja.com

Saat ini warungnya telah diwariskan pada Bu Narti, putrinya sebagai generasi penerus. Untuk menikmati satu porsi oseng-oseng mercon, cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp 15.000,00 lengkap dengan nasi dan lalapannya. Menu lain yang ditawarkan ada Puyuh Goreng dan Burung Dara Goreng yang tentunya tidak kalah  nikmat.

Nama oseng-oseng mercon sendiri sebenarnya merupakan pemberian dari budayawan Emha Ainun Najib (ayah dari penyanyi Noe Letto) atau lebih dikenal dengan panggilan Cak Nun. Dahulu warung makan tersebut sering dikunjungi untuk makan para seniman dan budayawan dan mereka sering membicarakan oseng-oseng tersebut pedasnya seperti mercon. Hingga akhirnya nama itu digunakan sampai saat ini.

Kini telah banyak puluhan orang duduk lesehan di atas tikar di pinggir jalan untuk menyantap sajian ini. Banyak eksperi-ekspresi tak terduga saat menyantap hidangan tersebut. Beberapa orang memiliki raut wajah yang tampak terengah-engah dengan matanya melotot. Dana ada juga sibuk mengelap peluh di keningnya hingga gobyos kotos-kotos. Padahal orang-orang ini bukan sedang berolahraga, namun sedang makan malam.

Foto: cari-toko.com

Banyak juga orang menyebut oseng-oseng ini dengan oseng-oseng bledek atau halilintar. Oseng-oseng ini sekarang sudah banyak yang bisa membuatnya, banyak warung tenda dan warung makan menyediakan menu oseng-oseng mercon ini. Untuk membuat oseng-oseng mercon ini biasanya dibutuhkan perbandingan 10:1. Kalau daging 10 kg maka digunakan cabai rawit 2 kg. Dengan takaran tersebut rasa pedas yang dihasilkan akan seimbang seperti komposisi oseng-oseng mercon bu Narti. Bagi yang tidak suka pedas maka bisa mengurangi jumlah cabai yang digunakan.

Bahan utama untuk membuat oseng oseng ini berupa kikil, gajih, daging sapi, dan cabai rawit. Bumbu yang lain berupa bumbu untuk memesak tumis. Yang membedakan adalah bila untuk masakan tumis, bumbu tersebut ditumis dengan sedikit minyak, akan tetapi pada oseng-oseng ini semua bumbu tersebut digoreng dalam minyak. Masakan ini juga tidak memakai kecap dan merica karena rasanya bisa berubah.

Oseng-oseng Mercon Bu Narti. Alamat: Jl. KH. Akhmad Dahlan, Gang Purwodiningratan Yogyakarta (depan eks kantor PP Muhammadiyah) | Telp. 0819 1555 4472. Jam buka: 17.00 – 22.00 WIB.

Bila kamu ingin mencoba membuat oseng-oseng mercon sendiri di rumah, silakan membaca ini: Resep Membuat Oseng-oseng Mercon Khas Yogyakarta.

 

4. Sego Pecel

Foto: anishidayah.com

Selain gudeg, Yogyakarta juga punya banyak spot pecel yang super. Salah satunya adalah SGPC Bu Wiryo. Mungkin bagi Anda yang sudah berusia 40 tahun atau lebih, Sego Pecel dan Sop Bu Wiryo merupakan makanan nostalgia yang dulu dapat dinikmati di kantin Fakultas Teknologi Tertanian dan Fakultas Kehutanan UGM.

Setelah berjualan lebih dari setengah abad, Sego Pecel ini masih tetap eksis walau banyak sekali jenis makanan baru yang bermunculan di Yogyakarta. Warung Sega Pecel Bu Wiryo legendaris ini kini lebih populer dengan sebutan SGPC Bu Wiryo 1959. Angka 1959 menunjukkan tahun berdirinya warung ini, meskipun tempat awalnya bukan di lokasi yang sekarang. Pengunjung SGPC Bu Wiryo kebanyakan adalah mahasiswa, dosen, maupun para alumni UGM yang datang untuk bernostalgia. Warung ini dari dulu memang menjadi tempat klangenan bagi mereka yang punya ikatan historis dengan kampus UGM.

Untuk lebih lengkap dan jelasnya mengenai segela sesuatunya tentang SGPC Bu Wiryo, kalian bisa membaca artikel ini: SGPC Bu Wiryo 1959 Warung Pecel Legendaris dari Kampus UGM.

Warung SGPC Bu Wiryo 1959. Jl. Agro CT VIII Klebengan, Sleman. Utara Selokan Mataram, seberang Fakultas Peternakan UGM | Telp: 0274 512288. Alamat: Jam buka: 07.00 – 20.30 WIB.

Selain Warung SGPC Bu Wiryo 1959, di Yogyakarta masih ada beberapa warung pecel yang cukup direkomendasikan oleh banyak orang, antara lain:

Foto: jogja.mblusuk.com
  • Pecel Baywatch (Pecel Kembang Turi Racikan Mbah Warno “Anderson”). Kasongan, Bantul, Yogyakarta.
  • Nasi Pecel Yu Sri. Alamat: Jl. Palagan Tentara Pelajar km 9 No. 8, Yogyakarta 55581 | Telp. (0274) 865 461. Jam buka: Senin – Minggu, 08.00 – 21.00 WIB.
  • Pecel Cak Yok – Pengok. Alamat: Jl. Langensari No.24 Pengok.

Bila kamu ingin mencoba membuat sego pecel sendiri di rumah, silakan membaca ini: Resep Membuat Sego Pecel Khas Yogyakarta.

 

5. Cenil

Foto: harianresep.blogspot.com

Kue cenil merupakan salah satu kue basah tradisional khas Jawa Tengah dan Yogyakarta yang terbuat dari tepung kanji yang teksturnya kenyal-kenyal gimana gitu. Kue ini lebih di kenal dengan ke unikanya yang berwarna warni yang pada umumnya di pasaran berwarna merah putih. Di samping itu, citarsanya juga sangat enak. Apalagi di tambah dengan parutan kelapa dan gula pasir membuat sajian ini banyak di gemari berbagai kalangan masyarakat. Tidak heran jika kue cenil banyak di cari masyarakat untuk manyajikannya saat acara hajatan atau bebrapa acara yang lain.

Dan jika membahas mengenai cenil, biasanya pikiran langsung terbang kembali ke masa kecil dulu saat cenil menjadi pesanan wajib saat ibu ke pasar di pagi hari. Setelah membuka bungkusnya yang menggunakan daun pisang yang di semat lidi, maka akan terlihat cenil dengan warna merah dan putih, dengan taburan gula pasir dan parutan kelapa.

Cara memakan cenil ala anak-anak kecil biasanya adalah lidi yang dipakai untuk menyemat bungkus digunakan untuk menusuk cenil, lalu dicocolkan ke parutan kelapa dan gula agar menempel pada cenil baru kemudian di sikat sampai habis. Ada sensasi tersendiri dalam mengunyah cenil kenyal dan legit nya cenil itu yang bikin ketagihan.

Kue cenil kue tradisional indonesia ini biasa nya banyak dijajakan oleh pedagang kaki lima yang terdapat di pasar tradisonal. Biasanya kue cenil ditempatkan ditempat yang besar (nampan atau tampir) dengan didampingi beragam aneka kue jajanan tradisonal indonesia lainnya, seperti kue lapis gula jawa, kue gesret,  dan lain sebagainya. Dan dengan uang dua ribu rupiah hingga lima ribu rupiah saja kita sudah dapat menikmati kue cenil salah satu jajanan trasional indonesia yang memiliki rasa manis, kenyal, dan gurih ini .

Di Yogyakarta tak banyak penjual cenil yang bertahan selama puluhan tahun. Mbah Hadi adalah salah satu yang masih bertahan. Nama Mbah Hadi memang cukup dikenal oleh penikmat jajanan tradisional di kota Jogja, khususnya kue cenil dan tiwul.

Foto: brilio.net

Mbah Hadi punya banyak pelanggan terutama mereka yang memiliki kenangan dan kerinduan akan jajanan masa kecilnya. Sejumlah wisatawan pun sering sengaja mampir hanya untuk memenuhi rasa penasarannya dengan cenil dan tiwul. Menariknya, cenil dan tiwul Mbah Hadi tidak dijajakan pagi atau siang hari layaknya jajanan pasar biasa dijajakan. Setiap harinya Mbah Hadi mulai menjajakan cenil dan tiwulnya dari pukul 16.30 hingga 20.00. Mbah Hadi menjajakan cenil dan tiwulnya di pusat kota Jogja, tepatnya di Jalan AM. Sangaji, 80 meter di utara Tugu Jogja.

Foto: kompasiana.com

Sepincuk cenil dan tiwul Mbah Hadi masing-masing dihargai Rp. 2.500. Harga yang cukup murah meriah untuk sepincuk kenikmatan. Cenil Mbah Hadi memiliki kekenyalan yang pas. Tidak terlalu lengket namun tetap kenyal ketika digigit. Teksturnya lembut dengan potongan yang agak besar. Warna merahnya memang tidak terlalu kuat namun manisnya sangat pas. Taburan gula pasir menambah manis sekaligus menimbulkan sensasi renyah ketika digigit. Sementara taburan kelapa yang diparut langsung cukup memperkaya rasa meski tidak dominan.

Bila kamu ingin mencoba membuat sego pecel sendiri di rumah, silakan membaca ini: Resep Membuat Cenil Kelapa Parut.



-

  • Jim

    I enjoy what you guys are up too. Such clever work and reporting!
    Keep up the superb works guys I’ve included you guys to my personal blogroll.